Aisyiyah Senantiasa Motivasi Kader TB Jaring Penderita

Memotivasi Kader TB. (Foto: John Doddy Hidayat).

Memotivasi Kader TB. (Foto: John Doddy Hidayat).

susibudiani –  (Garut, Selasa 1/4)

Diselenggarakan Supervisi Kader TB di wilayah Kecamatan Samarang, dan Tarogong Kidul, guna memotivasi mereka menjaring suspek jenis penyakit menular tersebut.

Motivasi diberikan, di antaranya menggali temuan permasalahan di lapangan ketika pendekatan pada masyarakat diduga menderita TB.

Okas Rokasih kader TB Aisyiyah asal desa Sukabakti Tarogong Kidul. (Foto: John Doddy Hidayat).

Okas Rokasih kader TB Aisyiyah asal desa Sukabakti Tarogong Kidul. (Foto: John Doddy Hidayat).

Dengan bercirikan batuk selama lebih dari dua hingga tiga pekan, tak sembuh disertai gejala panas demam, terus menerus lebih sebulan.

Sesak nafas ketika batuk, serta dada nyeri, tak bernafsu makan hingga badan menjadi kurus.

Foto bersama peserta monev dengan panitia program. (Foto:Haf)

Foto bersama peserta monev dengan panitia program. (Foto:Haf)

Berkeringat dingin di malam hari, meski tak beraktifitas.

Setelah Kader TB menyampaikan segala masalah di lapangan, maka penitia program segera mencari solusi, agar tak ada lagi permasalahan.

“Masalah itu, bisa timbul dari masyarakat itu sendiri, tak mau diajak periksa dahak (program ini mengggunakan sistem DOTs), bahkan sama sekali tak mau periksa kesehatan pada Puskesmas terdekat, lantaran merasa sehat padahal bergejala TB,” kata dr Sakinah Ginna R, Ketua Pelaksana Program, Selasa (01/04-2014).

Suasana Monev Kader TB Aisyiyah di Hotel Alamanda. (Foto:Haf)

Suasana Monev Kader TB Aisyiyah di Hotel Alamanda. (Foto:Haf)

Monev kader kesatu pada  triwulan pertama 2014, di Hotel Alamanda. (Foto:Haf)

Monev kader kesatu pada triwulan pertama 2014, di Hotel Alamanda. (Foto:Haf)

Sedangkan masalah lain, bisa datang dari petugas Puskesmas bagian TB/klinik DOTs, tak kooperatif, sebab antara lain merasa terganggu pekerjaan ketika kader TB Aisyiyah meminta nomor registrasi suspek/pasien TB.

Padahal, kader bersusah payah mencari suspek untuk diobati, kata Susanti Apriani (32), kader asal Samarang.

Agar tak menularkan ke orang sehat lainnya, kader mau mengongkosi suspek  pergi sama-sama ke Puskesmas.

“Kader kembali dibekali trik dan teknik penjaringan suspek, pola efektif promosi program penanggulangan TB, serta kader dipantau selama melakukan tugas di lapangan,” ungkap Ginna.

Pelaksana program senantiasa menanggapi beragam keluhan, dan permasalahan di lapangan agar tetap berjalan baik dan maksimal.

Kata dia, hingga kini terdapat penderita 14 MDR TB (TB kebal obat), tujuh di antaranya meninggal, enam dalam pengobatan dan pengawasan, serta satu pasien mangkir tak mau berobat lagi padahal belum tuntas.

Pasien MDR TB tak berobat ini, dikhawatirkan menularkan pada orang sehat lain, lantaran jika sampai menular, maka orang tertular itu, bisa sama dengan penderita MDR TB juga.

“Sehingga, pengobatannya juga kudu di RSHS Bandung, selama dua tahun minum obat, dan enam bulan ditambah suntikan, bertotal biaya mencapai Rp200 juta rupiah,” katanya.

Penanganan pasien MDR TB berdomisi di Garut, segera ditunjuk Puskesmas terdekat menjadi PMO (Pengawas Menelan Obat), agar pasien terkontrol minum obat dan tak terlewat suntikannya, sekaligus terawasi perkembangan kesehatannya.

“Kader TB Aisyiyah Garut senantiasa berusaha membantu pemerintah pada penanggulangan TB di daerah ini,” kata Rokasih (63) kader TB Aisyiyah asal desa Sukabakti Tarogong Kidul.

Kegiatan tersebut merupakan rangkaian pelaksanaan program penanggulangan TB di Garut oleh Aisyiyah, sebelumnya telah dituntaskan pula Monitoring dan Evaluasi dengan kader TB, bertempat di lokasi representatif Hotel Alamanda.

Mendata Rencana Tindak Lanjut kader. (Foto:Haf)

Mendata Rencana Tindak Lanjut kader. (Foto:Haf)

“Selain itu juga dilaksanakan sosialisasi serta pameran pada kegiatan pengajian pembinaan oleh Lazismu bertempat di pondok pesantren Darul Arqam Cimaragas Garut pada Ahad 23 Maret 2014 lalu,” ungkap Susi B, fasilitator program ini.

Memberi teknik penyuluhan efektif agar mudah diterima masyarakat. (Foto:Haf)

Memberi teknik penyuluhan efektif agar mudah diterima masyarakat. (Foto:Haf)

Sementara itu para tokoh agama terlatih sosialisasikan program ini pada khutbah Jumat 21 Maret, di beberapa masjid dimana para tokoh agama miliki jadwal khutbah, katanya.

Hal tersebut sekaligus dimulainya kegiatan peringatan Hari TB sedunia setiap 24 Maret, adapun kedepan akan diselenggarakan beragam lomba terkait TB bagi siswa, merupakan langkah pencegahan TB sejak dini.

Sedangkan gebyar peringatan World TB Day ini akan diadakan di lapangan Korem pada Mei mendatang bertepatan dengan Milad satu abad Aisyiyah, demikian Susi.

***** (SB)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s