Yayah Kusnariah : KDRT Meresahkan

Hj Yayah Kusnariah, SH, MH.  (Foto:SB).

Hj Yayah Kusnariah, SH. (Foto:SB).

Oleh: Yayah Kusnariah, SH.

susibudiani  –  Garut (Rabu, 1/1)

KDRT adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman agar melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.

Kekerasan  terhadap anak didominasi keluarga miskin, laporan dari  komisi nasional (KOMNAS) Perlindungan Anak (PA) mencatat kasus KDRT terhadap anak tahun 2013 terjadi dikalangan ekonomi atas/mampu sebanyak 70 kasus , ekonomi bawah sebanyak 809 kasus.

ILlustrasi.

ILlustrasi.

Kenapa  banyak terjadi di golongan ekonomi tingkat bawah ?

Miskin ekonomi berakibat terhadap kemiskinan lainnya, miskin ilmu, miskin iman, miskin wawasan, miskin sosial mereka tinggal di tempat penuh dengan kekerasan.

Pada 2014 diprediksi meningkat karena pemerintah lebih fokus pada Pemilu sehingga akan mengabaikan pemenuhan kebutuhan masyarakat akan perlindungan hukum.

Bentuk kekerasan antara lain kekerasan anak secara fisik misalnya pemukulan atau penyiksaan.

Kekerasan secara psikis seperti penyampaian kata-kata kasar atau kotor , memperlihatkan gambar atau film porno.

Kekerasan anak secara seksual yaitu sentuhan terhadap organ sensitif, pemerkosaan, insest atau eksploitasi seksual.

Kekerasan secara sosial contohnya menelantaran anak, dikucilkan dari keluarga atau tidak diberi pendidikan dan perawatan kesehatan layak.

Eksploitasi anak secara ekonomi, sosial atau politik tanpa memperhatikan hak-hak anak.

Korban KDRT antara lain pasangan (suami atau Istri), anak kandung, anak-anak dan orang dewasa  berada dalam lingkungan/pengasuhan  rumah tangga.

Sedangkan pasal – pasal menjerat pelaku kekerasan, UU Perlindungan Anak No. 23 Tahun 2002 dan UU KDRT No. 24 tahun 2004.

Illustrasi.

Illustrasi.

KUHP pasal 351 dan 352 yaitu pasal penganiayaan dan penganiayaan  ringan.

Kekerasan psikis berat diantaranya pengendalian, manipulasi, eksploitasi, kesewenangan, perendahan dan penghinaan.

Adapun bentuk pelarangan, pemaksaan dan isolasi sosial, tindakan  ucapan merendahkan atau menghina, penguntitan maupun kekerasan  atau ancaman kekerasan fisik, seksual dan ekonomis.

Kekerasan psikis berat dapat berakibat terjadinya gangguan tidur, gangguan makan, ketergantungan obat, disfungsi seksual, gangguan stres pasca trauma, gangguan fungsi tubuh berat (seperti tiba-tiba lumpuh atau buta tanpa indikasi medis).

Serta depresi berat atau destruksi diri, gangguan jiwa dalam bentuk hilangnya kontak dengan realitas seperti skizofrenia dan atau bentuk psikotik lainnya, bunuh diri.

Akibat kekerasan psikis berat dapat berupa ketakutan dan perasaan terteror, rasa tak berdaya, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan bertindak, gangguan tidur atau gangguan makan atau disfungsi seksual.

Gangguan fungsi tubuh ringan (misalnya, sakit kepala, gangguan pencernaan tanpa indikasi medis), fobia atau depresi temporer.

Kekerasan seksual berat dapat dicontohkan pelecehan seksual dengan kontak fisik, seperti meraba, menyentuh organ seksual, mencium secara paksa, merangkul serta perbuatan lain menimbulkan rasa muak/jijik, terteror, terhina dan merasa dikendalikan.

Pemaksaan hubungan seksual tanpa persetujuan korban atau pada saat korban tidak menghendaki.

Pemaksaan hubungan seksual dengan cara tak disukai, merendahkan dan atau menyakitkan.

Pemaksaan hubungan seksual dengan orang lain untuk tujuan pelacuran dan atau tujuan tertentu.

Terjadinya hubungan seksual dimana pelaku memanfaatkan posisi ketergantungan korban seharusnya dilindungi.

Tindakan seksual dengan kekerasan fisik dengan atau tanpa bantuan alat menimbulkan sakit, luka,atau cedera.

Kekerasan seksual ringan misalnya pelecehan seksual secara verbal, komentar verbal, gurauan porno, siulan, ejekan dan julukan.

Pelecehan seksual secara non verbal, ekspresi wajah, gerakan tubuh atau pun perbuatan lainnya meminta perhatian seksual tak dikehendaki korban bersifat melecehkan dan atau menghina korban.

Kekerasan ekonomi, terdiri kekerasan ekonomi berat, eksploitasi dan manipulasi, pengendalian lewat sarana ekonomi berupa memaksa korban bekerja dengan cara eksploitatif termasuk pelacuran.

Melarang korban bekerja tetapi menelantarkannya, mengambil tanpa sepengetahuan dan tanpa persetujuan korban, merampas dan atau memanipulasi harta benda korban.

Kekerasan Ekonomi Ringan seperti melakukan upaya sengaja menjadikan korban tergantung atau tak berdaya secara ekonomi atau tak terpenuhi kebutuhan dasarnya.

Pada kenyataannya kita butuh DUIIT, D : Doa, U : Usaha, I  : Iman           , I : Ikhtiar, T : Tawakkal.

********** (Edit:SB)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s