Tuntunan Merawat Jenazah (Bagian I)

Praktek memandikan jenazah. (Foto:SB)

Praktek memandikan jenazah. (Foto:SB)

susibudiani – Garut (Rabu, 1/1)

Disadur  Oleh : Hj. Siti Rokayah

“Setiap yang berjiwa akan mati. kemudian kepada Kami, kamu sekalian dikembalikan”

Hukum merawat jenazah wajib kifayah, “Cukup dikerjakan sekelompok masyarakat, bila tiada yang merawat seluruh masyarakat dituntut di hadapan Allah dan berdosa, sedang bagi yang mengerjakannya, mendapat kebaikan pahalanya dihadirat Allah”.

Sangat diutamakan merawat jenazah adalah keluarga terdekat, ayah/ibunya, suami/istrinya, putra/putrinya, kakak/adiknya dan seterusnya masih terdapat hubungan kerabat keluarga atau muhrim.

Namum sebaiknya sesama jenisnya, jenazah pria oleh pria, sedang wanita oleh wanita, kecuali suami/istri serta ayah/ibunya.

Sedang kakak/adik dan para putra lain jenis, cukup membatu keperluannya untuk menjaga martabat mayat dalalm rahasia auratnya.

illustrasi.

illustrasi.

Adapun penyelenggara pemakaman adalah khusus oleh kaum pria, demikian pula lebih diutamakan adalah yang malam harinya tiada junub, lebih-lebih yang mengerjakan pemakaman di kuburan.

Dalam penyelenggaraan perawatan jenazah, hendaknya segera dan sederhana, tiada berlebihan, baik bahan perlengkapan demikian pula tata caranya.

Merawat jenazah kudu sesegera mungkin, dalam arti tak ada keharusan menanti berkumpul seluruh kerabat keluarganya.

Bila secepatnya dapat tersedia perlengkapan cukup sepantasnya, segeralah dimakamkan.

Berdasar hadits :

ثَلاَثٌ يَا عَلِىُّ لاَ يُؤَخَرُوْنَ الصّلاَةُ إذَا أَتَتْ وَالْجَنَازَةُ إذَا حَضَرَتْ وَاْلاَ يِمُّ إذَا وَجَدَتْ كَــفُــؤًا الحدث

“Tiga hal, hai Ali, jangan ditunda, dilarang dipertangguhkannya shalat bila dating waktunya, jenazah bila telah nyata kematiannya dan wanita tiada bersuami, bila telah menemukan jodohnya”

 

اَسْرِعُوْا بِالْجَنَازَةِ فَاِنْ كَانَتْ صَالِحَةً قَرَّبْتُمُوْهَا اِلَى الْخَـيْرِ وَإنْ كَانَتْ غَيْرَ ذَلِكَ فَشَّرٌ تَضَعُوْنَهُ عَنْ رِقاَبِكُمْ  رواه

“Percepatkanlah penyelenggaraan jenazah bila seorang baik, perdekatkanlah kebaikannya dan bila tidak demikian, maka kamu akan lepas kejelekannya tersebut dari bebanmu”

Pendahuluan dalam penyelenggaraan perawatan jenazah.

Bila telah terang, nyata jelas ajalnya seseorang, maka segerakanlah perawatannya.

Perlakuan langsung terhadap si mayat dipejamkan matanya, dilemaskan terutama tangan dan kakinya diluruskan, dikatupkan mulutnya dengan mengikatkan kain, melingkar dagu, pelipis sampai ubun-ubunnya.

Diletakkan kedua tangannya (sedakep) diatas dada, kalau perlu diikat sekedarnya.

Diutamakan diterlentangkan membujur menghadap kiblat dengan kepala disebelah kanan kiblat (untuk Indonesia berarti di sebelah utara), ditutup muka wajahnya, serta seluruh tubuh badannya.

Demikian pula kita bersama terutama keluarga dekat/ahli warisnya melakukan , mengucapkan kalimat tarji’ untuk tujuan istirjaa’ (pasrah dengan ikhlas) ingat bahwa kita bersama akhirnya juga akan mengalami kematian.

“Sesungguhnya kita sekalian adalah milik Allah dan akan kembali kepadaNya” (QS. Al-Baqarah : 156).

Kemudian mendoakannya :

اَللّهُــــمَّ اغْفِرْلَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ (الحدث)

“Semoga Allah mengampuni, melimpahkan kasih sayangnya, memaafkan serta memuliakannya”

Menyebarluaskan berita kematiannya kepada keluarga/ahli waris, kerabat dan masyarakat lingkungan.

Mempersiapkan keperluan/perlengkapan perawatan mayat/jenazah, keluarga, terutama ahli waris, segera menyelesaikan hak insani/ada, utang piutang atau mengambil alih tanggung jawab hingga bai yang telah wafat.

Tiada lagi memiliki kewajiban/penyelesaian hak insani, kecuali hanya mempertanggungjawabkan amal pribadinya, hal tersebut peralihan tanggung jawab hak insani, dinyatakan kepada masyarakat luas.

Kewajiban Bersama/Kifayah

Wajib penyelesaian empat hak/kewajiban kepada jenazah, hak bagi si jenazah adalah kewajiban (kifayah) bagi kita yang  masih hidup.

Menyucikan/memandikan jenazah, Mengafani – menutup/membungkus seluruh tubuhnya dengan kain bersih, diutamakan putih, secara tertib dan baik.

Mensyalatkannya, untuk menyampaikan permohonan doa bersama kepada Allah SWT bagi seorang telah wafat.

Menguburkannya/memakamkan dalam liang lahat, rapat dan cukup dalam.

Perlu diterangkan disini, bahwa pembahasan mengenai tuntunan merawat jenazah ini sepanjang rawatan dalam keadaan biasa atau normal, sebab ada tuntunan khusus bagi rawatan jenazah dalam  keadaan tidak biasa (dharurat).

Diantaranya jenazah orang gugur syahid dalam peperangan membela agama Allah, tidak perlu disucikan/dimandikan dan tidak pula dishalatkan, hanya cukup dikafani dengan pakainnya yang melekat.

Orang meninggal dalam perjalanan laut, tak perlu dibawa kedarat dimakamkan, terutama jika mencapai daratan memerlukan waktu lama sehingga pemakaman tertunda.

Pengganti pemakaman dapat dilakukan dengan memasukkan jenazah ke dalam laut, serta diberi pemberat.

Orang wafat sewaktu berpakaian ihram, karena sedang melaksanakan haji/umrah, maka kain kafan cukup pakaian ihramnya dan tak boleh diberi pengharum sebagaimana jenazah biasa.

(bersambung)

******** (Edit:SB).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s