Mengantisipasi Perbedaan Satu Ramadan

Wujudul Hilal (Ist)

Iman Syukri  -  Nasaruddin Umar

susibudiani – (Jakarta, Senin 16/7)

Peluang untuk terjadinya perbedaan pendapat tanggal 1 Ramadan 1433 H sangat besar. Hal ini disebabkan umur bulan (hilal) masih sangat rendah.

Masih di bawah dua derajat, di bawah standar minimum kemungkinan melihat bulan (imkan al-ru‘yah) ditetapkan oleh MUI, Ormas Islam, dan pemerintah, yaitu dua derajat keatas.

Muhammadiyah salah satu ormas selama ini menggunakan metode perhitungan (hisab) menentukan bulan qamariyah, mengumumkan jauh-jauh hari tanggal 1 Ramadlan 1433 H tahun ini jatuh pada hari Jum‘at, 20 Juli 2012.

Dasarnya ialah hari itu hilal sudah wujud (wujud al-hilal), di atas 1 derajat.

Bagi Muhammadiyah, meskipun hilal nongol 0,1 derajat sudah berpindah bulan, tanpa harus menunggu penyaksian secara visual.

Sedangkan NU dan ormas-ormas Islam lainnya masih harus menunggu wujud al-hilal itu disaksikan secara visual.

Baik melalui mata telanjang maupun dengan menggunakan teleskop. Hal ini didasarkan kepada ayat:

“Barangsiapa di antara kamu menyaksikan bulan Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu ‘(Q.S. al-Baqarah/2:185).

Dalam beberapa hadis shahih dengan redaksi berbeda pada intinya menekankan perlunya penyaksian bulan (hilal) secara visual:

Berpuasalah jika engkau menyaksikan bulan dan berbukalah jika engkau sudah menyaksikan bulan”.(Hadis).

Seluruh dunia Islam sekarang ini menggunakan metode rukyah, yaitu metode penyaksian bulan di dalam menentukan kriteria penentuan bulan.

Bahkan Negara-negara Timur Tengah menggunakan batas imkan al-rukyah 6 derajat, mereka berpendapat hampir mustahil bisa menyaksikan bulan secara visual di bawah ketinggian bulan enam derajat.

Hal ini didukung juga sebenarnya oleh para ahli astronomi kita di Indonesia.

Pada awalnya Indonesia dan Negara-negara Asia Tenggara juga menetapkan standar sama dengan Timur Tengah (enam derajat).

Namun upaya menyatukan pendapat dengan aliran metodologi hisab, maka diturunkanlah batas standar itu ke angka 4 derajat.

Namun ada permintaan dari ormas tertentu agar diturunkan lagi ke angkadua derajat demi penyatuan pandangan maka ditoleransi lagi oleh ormas-ormas Islam mayoritas, termasuk NU.

Menteri-menteri agama di kawasan Asia Tenggara tergabung di dalam MABIMS juga mengikuti Indonesia.

Angka dua derajat ini efektif menyatukan pendapat di dalam menyatukan satu Ramadan dan satu  Syawal yang menentukan lebaran.

Belakangan Muhammadiyah lebih menegaskan lagi bahwa 0,1 derajat sudah masuk bulan berikutnya, tanpa harus menyaksikan bulan itu secara visual.

Informasi dari MABIMS sudah menetapkan satu Ramadan 1433 H  jatuh pada hari Sabtu, 21 Juli 2012.

Karena posisi bulan di bawah dua derajat, berarti tidak mungkin bisa menyaksikan bulan karena di bawah standard imkan al-ru‘yah.

Sedangkan Indonesia masih menunggu Sidang Itsbat Badan Hisab dan Rukyah dan ormas-ormas Islam, termasuk di dalamnya MUI.

MUI akan bersidang pada tanggal 18 Juli akan datang. Dengan posisi bulan kurang dua derajat maka sangat rawan terjadinya perbedaan awal bulan puasa. *****(Berbagai sumber/Edit:SB)

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s